Sabtu, 16 April 2011

Bunga Ross dari Cikembang Karya Kwee Tek Hoay


 
Oh Ay Ceng, pegawai perkebunan, terpaksa melepaskan Marsiti, kekasihnya yang setia, demi mengikuti kehendak ayahnya untuk kawin dengan Gwat Nio, putri pemilik perkebunan tempatnya bekerja. Marsiti sendiri mendorong Ay Ceng untuk patuh pada kehendak orangtua. Marsiti pergi dan meninggal. Ayah Gwat Nio membuka rahasia bahwa Marsiti itu adalah anaknya dari seorang piaraannya. Dari perkawinan Ay Cheng-Gwat Nio lahir Hoey Eng alias Lily yang tumbuh jadi gadis elok. Ia dipertunangkan dengan Sim Bian Koen, anak pemilik perkebunan Tjikembang. Sesaat sebelum perkawinan berlangsung, Lily meninggal. Bian Koen sangat masygul dan akan pergi ke Kanton untuk jadi tentara. Niat ini dihalangi Ay Cheng agar bisa menghadiri peringatan kematian Lily. Suatu hari menjelang keberangkatan ke Tiongkok, Bian Koen mengunjungi perkebunan Tjikembang dan sampai di pemakaman pribumi. Tiba-tiba ia berhadapan dengan "Lily". Terbukalah rahasia. Yang nampak oleh Bian Koen itu bukanlah Lily, tapi Roosminah, putri Marsiti dengan Ay Cheng. Roosminah akhirnya dipersunting Bian Koen.
Cerpen Bunga Ross dari Cikembang karya Kwee Tek Hoay. Kwee Tek Hoay adalah salah satu sastrawan melayu Tionghoa. Tulisan-tulisan beliau sering kali memiliki tema kehidupan sosial, pendidikan dan agama masyarakat peranakan Tionghoa. Karya-karyanya yang terkenal di antaranya di Boven Digoel, Boenga Roos dari Tjikembang, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia, dan Drama dari Krakatau.
Kwee Tek Hoay di kenal sebagai pengarang yang memiliki wawasan yang sangat luas. Karya-karyanya sering kali ia dapatkan dari ide-idenya mengenai pendidikan dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan di luar sekolah. Misalnya pendidikan untuk kaum perempuan. Pada masa-masa itu masih terbelenggu dengan norma dan aturan yang menempatkan posisi kaum perempuan di bawah pria. Hal ini tercantum dalam cerpen bungga ross dari cikembang yang bertemakan pernyaian. Jadi menurut saya KTH sangat prihatin terhadap nasib kaum perempuan, karena kaum perempuan kelak akan melahirkan generasi penerus namun memiliki ilmu yang terbatas untuk mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu yang mendidik anak-anaknya.
Cerpen Bunga Ross dari Cikembang ini salah satu kumpulan karya sastra melayu Tionghoa dan Bangsa Indonesia yang memiliki tema Pernyaian yang memiliki latar belakang masyarakat Cina (peranakan) di Indonesia. Karya ini lahir sekitar tahun 1927 yang mengisahkan hubungan antara etnis Tionghoa dengan bangsa pribumi (Indonesia). Pada saat itu etnis Tionghoa memiliki derajat lebih tinggi dengan bangsa pribumi yang sering kali dijadikan budak oleh mereka (Bangsa Tionghoa). Contohnya bisa kita lihat didalam cerpen ini yang menceritakan tentang kehidupan seorang anak nyai bernama Roosminah yang ditinggal mati oleh ibunya saat berusia 40 hari. Ibu Roosminah bernama Marsiti yang adalah seorang nyai dari Ay Tjeng, administrator perkebunan Karet di daerah gunung Mulia. Walau pun tidak terikat secara resmi oleh pernikahan, Ay Tjeng sangat mencintai Marsiti dan begitu pula sebaliknya.
Di dalam cerpen Bunga Ross dari Cikembang yang sangat menarik kita simak adalah kehidupan Marsiti, dia diceritakan dalam cerpen ini sebagai perempuan Sunda yang halus, penurut, hemat, dan tunduk pada tuannya (hlm. 313). Selain itu yang menarik adalah sikap Ay Tjeng terhadap Marsiti yang membentuk citra Marsiti sebagai wanita yang halus dan patuh terhadapnya. Penempatan Marsiti yang dilakukan oleh Ay Tjeng didalam cerpen ini dapat kita lihat dicerminkan sebagai strategi untuk menundukkan Marsiti yang sebagai perempuan pribumi. Marsiti tetap saja dikondisikan sebagai kelompok yang termajinalkan oleh karena itu didalam cerpen ini Marsiti layak menjadi tokoh sebagai nyai, dan itu berarti kedudukan Marsiti didalam cerita ini dapat disimbolkan sebagaik bentuk kolonialisme.
Selain itu kondisi Marsiti ditunjukkan didalam cerpen ini karena ia harus mengalah dari Gwat Nio, perempuan sebangsa dan setingkat dengan Ay Tjeng. Sedangkan Marsiti sendiri ditokohkan sebagai anak dari seorang Nyai. Oleh Karena itu posisinya terpinggirkan, menderita, berkorban dan tertundukkan. Penempatan Marsiti sebagai pihak yang pantas menderita, berkorban, dan tertundukkan ini terlihat didalam cerita yang mengkondisikannya sebagai Nyai atau perempuan yang setia yang tidak pernah berkhianat kepada lelaki selain Ay Tjeng.
Dan yang dapat menarik saya didalam cerpen ini, walaupun terdapat simbol kolonialisme didalamnya namun buat saya yang menjadikan lebih menarik adalah pola interaksi didalam cerpen ini.  Pola interaksi itu tampil dari beberapa jenis etnik bangsa, seperti Tionghoa, pribumi, dan keturunan-keturunan campuran Tionghoa dan pribumi.
*Dari berbagai pola yang hadir dalam interaksi sosial tersebut yang paling dominan dari segi psikologis, karena Ay Tjeng didalam cerpen ini citrakan sebagai Tuan yang tidak pernah mengandalkan hartanya dalam interaksi dengan beragam tokoh demi memuaskan keinginannya. Ia lebih mementingkan kekayaan batiniah dan ketenteraman jiwa dengan sikap dermawan dan segenap sikap baiknya.
Cerpen Bunga Ross dari Cikembang merupakan cerpen yang banyak mengandung pesan moral didalamnya, terutama dari segi sosial karena didalam cerpen ini terdapat hubungan antara Etnis Tionghoa dengan Suku Pribumi (Sunda). Kita dapat lihat bagaimana moral Tionghoa yang menjadikan pribumi sebagai nyai (perempuan) atau menjadi budak mereka. Dan ini merupakan simbol-simbol dari kolonialisasi yang menghendaki adanya pendudukan dari segi manapun, baik pendudukan moral, ekonomi, dan kebudayaan. Namun yang terdapat didalam tokoh Ay Tjeng walaupun ia mengkondisikan Marsiti sebagai nyai, ia tidak pernah mengandalkan hantanya untuk berinteraksi dengan beragam tokoh yang lain. Ay Tjeng lebih mementingkan kekayaan batiniah dan kententraman jiwanya yang jujur, romantis dan berbudi selalu menggunakan hati nuraninya dalam interkasi sosial dengan siapa pun.

Daftar Bacaan
·   Hoay, Kwee tek. 1927. Bunga Roos dari Cikembang. Batavia: Drukkerij Hoa
Siang In Kok
·   Esai Drs. Dedi Pramono, M.Hum, dosen Ilmu Sosial dan Budaya Dasar dan Sosiologi Sastra, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar