Minggu, 02 Januari 2011

SEKAR



Gadis itu mengisi setiap waktu kehidupannya dengan berselimut cinta. Siang itu aku merasakan berbeda sejak mengenal gadis cantik, manis dan menarik dengan matanya yang selalu mengoda iman pria dan senyumnya yang tulus. Ia selalu terlihat rapi dan kata – katanya pun halus dan tergaja.
Saat itu matahari yang ramah menyapaku dan seluruh penghuni alam ini. Dan waktu aku melihat wajah gadis yang bibirnya selalu kelihatan basah, aku melukiskan suasana indah hari ini yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan hal begitu dalam rahmat dan kasih sayang Allah kepadaku.
Gadis yang di mataku seumpama kilau matahari di musim semi. Kian hari wajahnya semakin cantik dan memesona dengan tatapan matanya dan senyumannya yang selalu merekah dibias wajahnya. Sebenarnya aku tidak ingin mengenalnya lebih jauh. Karena Sekar aku tahu telah menjadi kekasih dari sahabatku. Tetapi entah kenapa aku tertarik padanya, sejak ia selalu membantu kegiatan keremajaan di tempat tinggalku.
Aku merasa bangga memiliki teman sepertinya. Ia seorang remaja wanita yang selalu aktif di setiap acara yang menyakut kegiatan remaja, baik itu kegiatan sosial maupun kegiatan yang sifatnya hanya hura – hura. Dan rasa banggaku bertambah sejak aku mengetahui bahwa dia berbeda kepercayaan denganku dan remaja – remaja yang lain. Namun ia tetap tidak mengaja jarak dengan kami. Sekar selalu membantu setiap kegiatan yang menyangkut kepercayaan kami, contohnya ia dengan ikhlas membantu acara tasyakuran yang selalu di adakan para warga setiap HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia. Selain itu ia pun tak segan – segan membantu kami dalam kegiatan Bulan Suci Ramadhan yang selalu kami isi dengan beraneka kegiatan.
Ini sudah hampir tahun ke lima aku mengenalnya. Dan bertepatan dengan persiapan HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia ke enam puluh lima tahun. Saat ini aku merasa hal baik apa lagi yang Sekar lakukan dan membuat aku semakin tertarik kepadanya. Tetapi aku bukan tipe pria yang terburu – buru dalam melihat sifat wanita. Aku memberi kunci pada sang waktu.
Waktu pun bergulir tanpa aku sadari. Dan persiapan Hut Kemerdekaan Replublik Indonesia pun belum berjalan sesuai biasanya. Aku merasa heran dengan teman – temanku. Hanya tinggal sebulan menjelang acara, akan tetapi belum terdengar persiapan yang di lakukan para teman – temanku yang tergabung dalam Karang Taruna. Aku pun hendak kerumah sahabat dekatku yang dindingnya rapat dengan tembok rumahku. Tetapi setelah aku berkunjung kerumahnya ternyata sahabatku yang bernama Indra tidak berada dirumah. Adik kecilnya mengatakan bahwa kakaknya sedang berada dirumah Arief yang tidak jauh dari tempat tinggalku.
Tidak beberapa lama kemudian aku sudah berada di halaman rumah Arief, dan disana aku tidak juga menemukan dua sosok sahabatku. Di saat aku mendengar tawa dan celotehan dari arah rumah Sekar, aku mengenali bahwa tawa dan celotehan tersebut adalah ciri khas dari ke dua sahabatku. Saat itu pun aku memutuskan untuk segera melangkahkan kakiku menuju rumah Sekar. Jarak antara rumahku, rumah Indra, rumah Arief dan rumah wanita yang senyumannya selalu merekah jaraknya tidak terlalu jauh.
Saat itu Indra dan Arief duduk diantara Sekar dan dua gelas yang berisikan kopi susu. Dan aku melangkahkan ke dua kakiku dengan tenang. Mereka pun menyambut kedatangan dengan ramah dan segera menawariku segelas kopi hangat. Sebenarnya bukan masalah aku menolak dan menerima pemberian sahabatku Arief. Namun aku merasa tidak pantas langsung segera menikmati segelas kopi tersebut. Dan akhirnya aku hanya membiarkan segelas kopi tersebut tanpa aku sentuh.
Lalu aku menyulut sebatang rokok. Aromanya semerbak langsung membuat Indra dan Arief merasa ingin menikmati rokok yang kuhisap, menurut mereka setidaknya rokok yang kubawa dapat mengusir rasa asam dimulut mereka. Kini Sekar pun duduk berada didalam kepulan – kepulan asap rokok tebal dari mulut kami. Namun ia tidak sedikit pun merasah marah kepada kami. Dan kami tetap menikmati rokok yang kami hisap walau mungkin sebenarnya asap rokok yang kami hisap menganggu pernapasaan wanita yang duduk diantara kami.
Tidak beberapa lama Sekar pun menjelaskan perbincangan mereka yang sejak tadi aku tidak ketahui. Ia mengatakan bahwa Arief, Indra berserta dirinya memiliki maksud untuk mempersiapkan HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia yang hanya tinggal sebulan. Aku pun sebenarnya ingin menanyakan hal tersebut kepada mereka. Namun aku merasa bahwa penjelasan yang diberikan Sekar membuat aku merasa bahagia karena aku dapat menikmati wajah cantiknya, aku pun membiarkan saja dia menjelaskannya kepadaku.
Kepulan asap rokok yang kami hisap semakin menemani penjelasan yang disampaikan Sekar kepadaku. Ia mengatakan bahwa acara Hut Kemerdekaan Replublik Indonesia yang ke enam puluh lima tahun yang di adakan ditahun ini. Mungkin hanya berisikan perlombaan – perlombaan saja yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Saat itu aku tidak mempertanyakan mengapa hanya perlombaan – perlombaan saja yang diadakan. Karena menurut sepengetahuanku bahwa Hut kemerdekaan Replublik Indonesia tahun ini mendekati dengan kegiatan Bulan Suci Ramadhan.  Lalu Indra melanjutkan penjelasan yang diberikan Sekar. Ia mengatakan bahwa yang memiliki ide ini sebenarnya wanita yang pertama menjelaskannya kepadaku. Dan ia juga mengatakan bahwa hambatan yang mungkin pasti menghambat proses acara adalah masalah dana.  Saat itu sebenarnya aku, Indra dan Arief merasa pesimis yang menyangkut mengenai dana. Namun Sekar mengatakan bahwa, kalau yang membuat kita pesimis itu belum kita coba sedikit pun. Maka kita tidak mengetahui mampu atau tidak kita lalui. Dan menurutnya hal yang terpenting adalah mencobanya dahulu.
Beberapa hari selanjutnya, kami pun berhasil mendapatkan dana sebesar Satu juta empat ratus lima puluh enam ribu. Saat itu kami merasakan kembali pesimis menghantui kami. Karena dana yang kami butuhkan agar acara bejalan dengan semarak sebesar Empat juta sampai Lima juta. Saat ini pun kami merasakan semangat yang sama, namun sedikit berbeda. Sekar dan remaja putri lainnya ikut serta dalam membantu kami dalam mencari dana dengan cara memintai pungutan kepada warga dengan seijin Ketua RT dan RW kami. Saat itu aku bertambah kagum, bangga dan menyukai pribadi Sekar yang telah berhasil menyemagati para remaja putri yang lain. Dan ini pun yang membuatku menyesal kenapa bukan diriku yang menjadi kekasihnya. Namun aku tetap bahagai dan bukan masalah bagiku walau Sekar dimiliki oleh sahabat dekatku, Arief.
Siang yang lain aku, Indra, Arief, Sekar menunggu remaja putra – putri yang lain yang berkeliling memintai pungutan kepada para warga di di rumah Sekar. Tetapi mereka tidak muncul juga, sehingga kami merasa jenuh menunggu mereka. Akhirnya salah satu teman kami yang ikut serta dalam memintai pungutan menemui kami. Dan ia mengatakan bahwa teman – temannya sedang di introgasi para senior. Ia juga amanat para senior agar kami mendatangi mereka yang sedang berkumpul di salah satu kediaman senior kami. Lalu kami pun memutuskan untuk menemui mereka.
Setelah kami berada di tempat para senior yang sedang mengintrogasi remaja yang lain. Kami pun segera mendapatkan pertanyaan yang sama. Mereka mengatakan siapa yang memiliki ide pertama kali yang bersangkutan mengenai proses pemungutan dana. Kami berempat pun menjawabnya dengan lantang, bahwa ide tersebut adalah ide kami bersama. Saat itu para senior kami bukan membantu memberi semangat kami. Namun mereka mengatakan bahwa tidak ada waktu lagi untuk mengadakan acara yang kami maksud, yakni mengadakan acara perlombaan yang bertepatan dengan HUT kemerdekaan Replublik Indonesia. Kami pun bertambah semangat setelah para senior kami meremehkan kinerja kami.
Sore yang lain, aku kembali mendatangi rumah Sekar. Kedatanganku di sambut para teman – temanku dan Bang Komar yang aku kenal sebagai Ketua Karang Taruna di wilayahku. Saat itu ia merasa bangga setelah mendengar maksud dan tujuan kami yang ingin mengadakan HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia. Ia juga mengatakan jangan diambil pusing masalah para senior yang meremehkan kinerja kami.
Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar dari wanita yang salama ini aku tertarik padanya bahwa acara HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia berjalan dengan semarak. Aku ikut merasa senang mendengarnya, walaupun aku tidak ikut dalam kemeriahannya. Dan walaupun hingga saat ini aku belum mengutarakan kekaguman akan kecantikan, sikap dan tutur katanya kepada wanita yang senyumannya selalu merekah itu, aku tetap merasa senang walau hanya sebatas persahabatan. Karena menurutku persahabatanku dengannya tidak akan menganggu persahabatanku dengan Arief yang kini masih menjadi kekasihnya.
Sekar pernah berkata padaku “ Segeralah kamu cari pacar yang selalu bisa menyayangiku dan semangat padaku “, Hati kecilku pun berkata, “ Lupakan rasa kagum akan kecantikan Sekar dalam ingatanmu sekarang, karena rasa itu akan merusak persahabatanmu dengan teman dekatmu.”
                                                                                    Depok, 2010-07-04
                                                                                    Syaif Hakim

Jumat, 03 Desember 2010

RENJANA


Senyumku dalam malam
diam menanti binar – binar rindu
mengharap rindu yang hinggap  matamu
diantara desah malam
seperti serpihan bintang
yang terbentang diangkasa,
Senyum mengembang
bersama kisah dan kenangan yang ada
memancarkan pesona
dari waktu ke waktu
dan menyuguhi harapan
untuk rinduku bersambut

Syaif Hakim

ENIGMA


Waktu terlalu rentan mengucap huruf – huruf
Yang terkubur dalam masa silam
Kusadari apa yang terlewatkan
Dan kata yang sembunyi dalam lorong bahasa
Kini tinggal kisah yang mungkin abadi
Sebab aku adalah penyaksi
Pada getir malam yang menjelang
Dan ingin kusingkap rahasia
Walau secercah harap
Yang tak pernah terpisahkan
Antara kenyakinanku
Dan kesangsianku
cv
Syaif Hakim

DEWI CINTA


Selamat datang dewi cinta
Yang tak pernah pamrih akan anugrah
Kau selalu hadirkan kami kebahagian
Kau selalu hadirkan kami kesedihan
Setiap kata yang kau berikan
Setiap napas yang kau tiupkan
Tak pernah terpisahkan
Akan anugrah sang pencipta
Setiap aliran darahku
Seperti hulu air yang ingin mencapai hilir
Seperti angin yang ingin mencari celah
Tak pernah kau sematkan kata benci
Tak pernah juga kau bisikan sepenggal penyesalan

Prediksi Pertandingan Indonesia VS Laos

Indonesia VS Laos.
Lawan yang tidak boleh di pandang sebelah mata, saat melakoni partai kedua penyisihan Grup A Piala AFF 2010, Sabtu, 4 Desember 2010 19:30:00 WIB, Gelora Bung Karno - Jakarta, Indonesia.

Optimisme layak diapungkan pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, mengingat Irfan Bachdim dkk, mengawali laga perdananya di penyisihan Grup A Piala AFF 2010 mengalahkan Malaysia dengan hasil yang memuaskan 5-1  di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Rabu (1/12) Malam WIB.

Hasil ini membuat Timnas Indonesia memiliki percaya diri yang tinggi karena mereka memuncaki klasemen sementara dengan nilai tiga. Akan tetapi mereka tidak boleh lengah dan menganggap remeh Laos, karena mereka pun dapat menahan Imbang pasukan Thailand di Partai pertama penyisihan Grup A Piala AFF 2010, Rabu, (1/12 Malam WIB.
Laos yang mengandalkan skuad di SEA Games 2009 lalu berusaha untuk memperlihatkan performa terbaik mereka, dan tak ingin menjadi lumbung gol bagi tim lainnya yang mereka hadapi di partai kedua penyisihan Grup A Piala AFF 2010, yakni Indonesia.

Menurut saya, keberhasilan Laos menjadi juara kualifikasi Piala AFF memperlihatkan tim tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Saya menilai pertandingan melawan Laos sangat penting bagi tim Merah putih.

 Alfred Riedl dan anak asuhannya harus menjadikan duel melawan Laos sebagai tujuan untuk lolos di Fase selanjutnya. Namun Alfred Riedl tidak boleh jumawa, karena keberhasilan Laos lolos menjadi juara kualifikasi Piala AFF dan telah berhasil menahan imbang Thailand menunjukkan kualitas mereka berbeda beberapa tahun silam. Dan untuk itu Timnas tidak boleh lenggah sedikit pun saat melakoni partai kedua mereka melawan Laos.


Head to head Indonesia vs Laos:
13 Januari 2007           : Indonesia 3-1 Laos
07 Desember 2004      : Laos 0-6 Indonesia
05 Oktober 1997         : Indonesia 5-2 Laos

Prediksi Susunan Pemain Indonesia vs Laos:

Indonesia (4-4-2): Markus, Zulkifli, Maman, Hamka, Nasuha, Oktovianus, Bustomi, Firman, M.Ridwan, Gonzales, Irfan Bachdim. Cadangan: Ferry Rontisulu, B.Wahyudi, M.Robby, Slamet Riyadi, Toni Sucipto, Eka Ramdani, Arif Suyono, Bambang P., Y.Aribowo, Dendi Santoso.

Laos (4-4-2):  Bounthisan, Kitsada, Souksavanh, Pinkeo, Phommapanya, Syvilay, Sysomvang, Soukhavong, Liththideth, Phapouvanin, Singlo.
Cadangan: Somvang, Namthaviaxay, Liepvisay, Vongsouriyasack, Hanvilay, Inthammavong, Vongchiengkham, Sysoutham, Phomsouvanh, Phimmasen, Sayavutthi

Prediksi Skor Pertandingan Indonesia VS Laos :
Indonesia 3-1 Laos

Syaif Hakim: NOVEMBER

Syaif Hakim: NOVEMBER: "

Memburu masa lalu, mengejar bayang-bayang yang tak past



“Aku ingin kembali ke masa itu, masa di mana aku dapat leluasa berbuat apa pun tanpa berpikir tentang kewajiban-kewajiban setelah menjadi dewasa”, itulah ucapannya ketika sedang berada di alam bawah sadar yang dia sendiri pun tidak pernah merasa sadar dengan ucapan-ucapannya setelah kadar akohol yang di minumnya tidak lagi merusak pikirannya tentang kehidupan nyata. Aku merasa heran dengannya, kenapa ia ingin kembali ke masa lalunya. Karena menurutku tidak mungkin semua perkataannya akan tercapai. Bahkan aku merasa masa lalu tidak akan pernah kembali lagi.
Ucapannya itu keluar dari rongga mulut sahabatku yang bernama Sakti. aku dan Sakti tinggal dalam satu kost yang sama. Aku merasa aneh dengan ucapannya ketika kali pertama bertemu, aku mendengar ucapannya yang menurutku aneh ketika malam pergantian tahun. Bahkan ucapannya itu selalu kudengar setiap kali Malam Pergantian Tahun. Namun keanehan itu telah terjawab ketika menyadari kalau semua perkataan yang di keluarkan dari mulutnya adalah kata-kata yang tidak di sadarinya, akibat dari menenggak minuman keras.
Malam pergantian tahun yang ketiga kalinya aku dan Sakti merayakan bersama. Malam itu Sakti terus saja menenggak minuman keras dalam botol, walaupun ia sudah tidak mampu untuk mengendalikan dirinya. Ketika itu ia berjalan santai dengan menenggak minuman keras tanpa peduli orang sekitar yang memperhatikan tingkah lakunya, yang menurut warga tidak baik bahkan dapat merusak citra baik yang selama ini selalu di banggakan warga desa.
Ketika itu aku segera menghampirinya di saat menyadari kalau keberadaannya menganggu warga yang lain. Seketika aku mengelengkan kepala di saat ia menawari minuman keras yang di gengam eram kedua tangannya. Aku menolaknya dengan lembut agar ia tidak merasa marah karena tawarannya di tolak.
“ Kenapa kamu menolak tawaranku?, padahal kalau kamu tahu air ini adalah air kenikmatan,” tanyanya lalu segera melanjutkan pembicaraannya dengan melontarkan pertanyaan kedua kalinya padaku. “Kamu tahu kenapa alasannya aku meminum air ini?”
“Maaf aku sudah lama tidak meminum-minuman keras lagi, dan sungguh aku tidak tahu alasannya kenapa kau meminumnya” Jawabanku saat itu dengan nada lembut agar ia tidak jauh dariku. Sebab pabila ia menjauh dariku, aku tidak tahu alasannya kenapa ia selalu berkata hal yang sama ketika malam pergantian tahun.
“Baguslah kalau kamu tidak meminumnya, dan kalau kamu meminumnya berarti jatahku berkurang,” Diam sebentar lalu tertawa sekeras-kerasnya,”Hahahahahaha........”
“Maaf sebelumnya, tadi kamu bertanya padaku tentang alasan kenapa kamu meminum air itu dan aku..........,”Sebelum aku melanjutkan pembicaraanku ia seperti tahu maksud pembicaraanku
“Jadi kamu ingin mengetahui kenapa alasannya aku menenggak minuman ini?,” Diam mencoba menunggu jawabanku, lalu ia kembali melanjutkan bicaranya setelah melihat wajahku yang saat itu hanya menganggukan kepala,”Baiklah, aku menenggak minuman ini karena menurutku dengan minuman ini aku bisa berbuat apa pun semauku. Dan aku merasa bahagia, senang, tanpa sedikit pun merasa kalau semua kehidupanku sulit. Bahkan untuk menggapai masa depan pun aku tidak mampu. Untuk itu aku meminum-minuman keras ini.”
“Lalu?” Tanyaku heran
“Yach dengan minuman keras ini aku bisa kembali ke masa lalu dan dapat mengejar bayang-bayang tentang masa depan yang tidak mungkin dapat kuraih di alam nyata. “
“Bukankah dengan minuman keras itu kita hanya bisa berkhayal tanpa sedikit pun merasa tercapai dengan bayang-bayang tentang masa depan.”
“Yach, tapi setidaknya aku bisa merasakan bayang-bayang tentang masa depan walau hanya dalam khayalan. Dan aku dapat memburu masa lalu yang selalu kuharap agar ia datang kembali” Jawabnya dengan sedikit tertawa. Namun suara tawanya tidak terdengar dengan keras.
Suara Adzan Isya bersahutan antara mushala-mushala dan masjid-masjid, layaknya mengajak seluruh umat manusia untuk menjalankan ibadah. Orang-orang pun berduyun-duyun menuju ke masjid dengan pakaian rapih dan sedikit minyak wangi yang mewangikan badan mereka. Dan aku segera bergantian pakaian. Aku pergi meninggalkan sahabatku setelah berpamitan dan ia pun menerimanya walau sebenarnya dari raut wajahnya terlihat kalau ia tidak senang denganku karena telah memotong pembicaraan. Lalu aku segera memberinya saran bahwa setelah aku melaksanakan sholat, aku akan melanjutkan pembicaraan dengannya lagi.
Lalu setelah sholat isya selesai orang-orang baru saja keluar dari masjid, Sakti saat itu menungguku di halaman masjid sambil merancau dengan kalimat yang sama, kata-kata yang diucapkannya seperti ia tidak sadar akan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sehingga menarik perhatian orang-orang tersebut, tetapi mereka menghindar dan hanya melihat kearahnya dengan raut wajah kesall dan jijik melihat tingkahnya. Sampai seorang lelaki yang kukenal sebagai Rt di wilayahku menengurnya.
“ Sakti kamu tidak sholat?”
“Apa Pak?” Jawab Sakti seperti tidak mendengar perkataan Pak RT
“Kamu tidak sholat?”
“Sholat....?, Bapak ini bodoh ya!, atau Bapak tidak tahu keadaanku sekarang?”,Bentaknya lalu mencoba untuk menjelaskan keadaannya,”Aku ini sedang mabuk, apakah orang yang sedang mabuk boleh sholat?”
“Jadi kamu ini sedang mabuk, kalau begitu akan saya urus kamu ke kantor polisi”
“Sudah, jangan banyak omong. Urus dirimu sendiri.”Jawabnya seenaknya.
Saat itu aku segera menghampirinya dan mencoba memberikan pengertian pada Pak RT agar Sakti tidak di laporkan ke kantor polisi dan bertanggung jawab atas sahabatku agar tidak berbuat yang tidak baik kepada para warga. Pak RT pun akhirnya mengerti dan mempercayaiku untuk menjaganya agar ia tidak berbuat yang tidak baik kepada para warga dan Pak RT pun beranjak pergi meninggalkan kami berdua.
Aku akhirnya mengajaknya untuk kembali ke kostnsan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid. Saat itu Sakti tetap menenggak minuman keras, walaupun jalannya sudah sempoyongan. Kata-kata yang sering kudengar setiap kali malam pergantian baru dan setiap kali Sakti menenggak minuman keras kembali terdengar, hingga para warga yang sedang asyik dengan aktivitasnya bersama keluarga, teman, saudara yang tidak ingin meninggalkan kesempatan untuk merasakan malam pergantian baru pun terpenrangah melihat tingkah laku sahabatku itu. Dan ada diantara mereka yang bertanya mengapa aku bersedia menemaninya. Akan tetapi aku tidak menjawabnya dan hanya berjalan mengikuti gerak langkah sahabatku itu untuk segera sampai ke kostsan.
Sesampainya dikostsan kami hanya mengobrol seadanya dan setelah itu aku meninggalkannya seorang diri untuk mencari angin dan membeli persedian rokok yang sudah mulai habis. Aku meninggalkan Sakti dengan berbagai macam minuman keras yang sudah dibeli sewaktu siang tadi. Namun kepergianku tidak membuatnya merasa seorang diri. Karena ia dapat dengan leluasa dengan imajinasinya dan khayalannya seorang diri.
Orang-orang menikmati malam pergantian tahun; ada yang jalan-jalan sehabis Isya, ada yang berkunjung ke rumah saudara, sahabat untuk menikmati malam pergantian tahun dengan berbagai macam aktivitas; membakar jagung, ayam. Tapi banyak pula orang-orang yang seperti Sakti yang hanya menikmati malam tahun baru dengan menenggak minuman keras. Dan berkeluyuran mencari minuman keras ke berbagai tempat yang menjual dan membelinya untuk dinikmati secara bersama maupun sendiri seperti Sakti yang hanya menikmati minuman keras seorang sendiri.
Tak seperti lainnya, Sakti hanya rebahan didalam kamar, berbeda dengan orang-orang yang menikmati malam pergantian tahun dengan pergi ke tempat-tempat hiburan dan hanya berkeluyuran entah kemana arah tujuannya. Di dalam kamarnya ia hanya menatap langit-langit kamar dengan kedua tanganya dilipat sebagai alas kepala. Dan Sakti pun tidak merasa bahagia dengan kedatangan tahun baru, yang tidak seperti orang-orang lainnya yang merasa bahagia dengan malam pergantian tahun. Walaupun ada pula golongan tertentu yang merasa sedih dengan kedatangan tahun baru. Karena ia tidak ingin meninggalkan cerita masa lalunya yang mungkin dianggapnya masa terindah didalam kehidupannya. Dan itu pula yang dirasakan Sakti, ia merasa tahun baru telah merengut kehidupan dimasa lalunya yang dianggapnya masa bahagia, senang tanpa sedikit pun merasa kalau semua kehidupannya di masa sekarang yang dirasanya sulit untuk mengejar bayang-bayang masa depan yang tak pasti.
Lalu ketika dia telah terlelap dari tidurnya seorang lelaki yang mirip denganku membangunkan tidurnya. Saat itu aku memakai pakaian bersih dengan sarung dan kopiah putih. Wajahku ketika itu nampak sangat tenang dan tersenyum ramah padanya.
“Sakti, kenapa kamu masih meminum-minuman keras ini?, bukankah kau pernah berjanji padaku bahwa kamu tidak akan meminum air haram ini.”
“ Apakah keberadaanku menganggumu, sehingga kau bertanya seperti itu untuk kedua kalinya?” Jawabnya sambil mencoba bangun dari tidurnya.
“Sedikit pun aku tidak merasa terganggu, tapi aku heran denganmu. Tadi kamu berkata padaku bahwa kau ingin mengejar bayang-bayang tentang masa depan. Akan tetapi kamu hanya membuang-buang waktumu untuk hal-hal yang bersifat merugikan dirimu sendiri.” Jawabku saat itu.
“Ya aku memang ingin memiliki masa depan. Akan tetapi masa depan itu tidak mudah kuraih. Bahkan aku merasa masa depan itu masih bersifat bayang-bayang yang tak pasti. Selain itu aku merasa lebih baik kembali memburu masa lalu dari pada aku harus mengejar bayang-bayang akan masa depan yang tak pasti.” jawabnya rendah diri sambil menata rambut yang acak-acakan
“Apa yang kau katakan itu benar, memang masa depan seseorang dan siapa pun dia tidak akan diperlihatkan padanya ia akan menjadi apa, sukses atau tidak. Untuk itu dibutuhkan usaha dan keseriusan untuk mendapatkannya,”Ujarku menasehati, lalu kembali melanjutkan pembicaraanku.”Dan kalau kamu ingin kembali ke masa lalu, itu berarti suatu kemunduran dalam hidupmu. Kamu sama saja pengecut bahkan bisa dikatakan sebagai pecundang. Karena kamu sudah takut sebelum berperang.”
“Tapi.....,”Sebelum Sakti melanjutkan bicara. Aku segera memotongnya.
“Ingat didalam kehidupan kita, kitalah yang harus berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan Tuhan yang menentukannya. Akan tetapi pabila usahamu tidak berhasil, berarti Tuhan memberimu jalan yang lain yang bukan kamu inginkan.” Aku pun pergi tanpa berkata-kata lagi. Jalanku saat itu bagaikan seorang Guru yang baru selesai memberikan nasehat dan pelajaran terhadap muridnya.
Ketika aku masuk kedalam kostsan, aku mendapati Sakti saat terbangun dari tidurnya. Dan seketika dia tercengang dan tak percaya melihat ke arahku, setelah kejadian yang dialaminya. Saat itu dia mencoba menceritakan semua tentang mimpi yang ia alami sendiri. Dengan baik dan tidak sedikit pun cerita yang dilebihkan atau dikuranginya. Saat itu aku pun menjelaskan apa yang dialaminya tentangku dialam mimpinya adalah bukan diriku, sebab ketika dia sedang tertidur pulas dengan aneka minuman keras, aku meninggalkannya seorang diri untuk mencari angin dan membeli persedian rokok yang sudah mulai habis. Sejak itulah, Sakti merasa seperti mendapatkan pelajaran yang sangat berharga untuk dirinya. Setiap kali ia merasa tidak mampu untuk mengejar bayang-bayang tentang masa depan, ia teringat nasehatku didalam mimpinya.
Aku merasa apa yang dialaminya sebagai pelajaran buat kehidupanku sendiri dan orang lain yang membaca cerita pendek ini.
                       
                                                                                    Depok, Desember 2010