Jumat, 25 Februari 2011

Mencari pendamping hidup


Beberapa hari ini aku selalu berpikir bahwa diriku tidak akan mempunyai pendamping hidup. Bahkan aku merasa kalau diri ini layaknya seseorang yang mempunyai penyakit yang suka terhadap sesama jenis. Namun seketika aku segera menghapus pemikiran jelek itu, karena aku yakin kalau keberadaanku hingga kini yang belum mempunyai pendamping hidup karena aku tidak seperti lainnya yang memberanikan diri untuk mengatakan bahwa aku suka kepada setiap seorang wanita yang pernah dekat denganku.
Tidak mudah untukku mengatakan suka kepada wanita yang pernah dekat dengaku. Sering kali aku menghabiskan waktu libur kerja, berlama-lama hingga senja merekah dengan wanita yang pernah dekat denganku. Bahkan sering kali setiap aku membawa wanita yang dekat denganku ke rumah orang tua, mereka sering mengira kalau wanita itu adalah pacar yang akan menjadi teman hidupku. Namun sesungguhnya hubungan aku dengan wanita itu hanya sebatas sahabat.
Selain itu sering kali aku merasa suka dengan salah satu wanita yang dekat denganku. Namun aku tidak mempunyai keberanian diri untuk mengatakan apa yang aku rasakan terhadapnya. Ada juga di antara wanita yang pernah dekat denganku bertanya mengapa aku tidak segera menembaknya kalau aku suka dengannya. Mereka juga bertanya mengapa aku bersifat dingin kepada mereka dan tidak pernah mengatakan kalau aku suka dengan mereka. Mungkin karena itu sampai saat ini aku tidak pernah mendapatkan calon pendamping hidup.
Sebenarnya aku merasa malu dengan sahabat yang seusiaku atau dengan yang lebih muda dariku saat menghadiri pesta pernikahan salah satu dari sahabat kami. Mereka datang dengan para istri dan suami mereka. Namun aku hanya datang seorang diri tanpa membawa wanita yang akan menjadi pendamping hidupku. Mereka pun banyak yang bertanya-tanya mengapa sampai usiaku yang telah menginjak dua puluh delapan tahun belum juga memiliki istri atau pendamping hidup. Ada juga sebagian dari mereka yang bertanya tentang para wanita yang pernah dekat denganku, siapakah mereka yang telah kuperkenalkan kepada mereka. Aku menjawabnya dengan santai bahwa mereka hanya sebagai sahabat.
Selagi aku termenung-menung sendiri di dalam kamar, aku tersentak ketika tiba-tiba adikku membawakan kopi panas yang beberapa menit yang lalu aku meminta agar di buatkan kopi kesukaanku, kopi hitam ke coklat-coklatan. Aku bersyukur masih mempunyai adik yang perhatian terhadap kakaknya, dan tidak pernah membantah apa pun yang aku katakan padanya. Selain itu aku juga berharap kopi panas yang di sediakan adikku dapat menghilangkan rasa kantuk setelah seharian bergelut dengan perkerjaan yang hampir membuatku jenuh.
Aroma khas kopi hitam ke coklat-coklatan menguar, uap panasnya mengepul-ngepul menggelitik indra penciumanku. Lalu aku mengangkat cangkir, menyeruput kopi panas itu, rasa pahit manis yang kurasakan menggeletarkan lidahku. Seluruh syarat tubuhku kembali terasa nyaman setelah menyeruput kopi buatan adikku itu. Rasa kopi itu menyenangkan dan menenangkan hatiku.
Saat aku menikmati kopi panas yang telah membuatku merasa nyaman mengingatkan aku kepada kenangan pertama kali aku mengemari kopi hitam ke coklat-coklatan. Waktu aku pertama kali menikmati kopi, saat usiaku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ketika itu aku sedang berkunjung ke rumah seorang teman wanita yang satu kelas denganku namun persahabatan kami tidak terlalu dekat, aku ingat namanya Yayat Nurhayati. Kedatanganku ke rumahnya bersama teman-teman yang lain untuk menyelesaikan perkerjaan rumah yang harus di selesaikan secara berkelompok. 
Saat Yayat menawarkan minuman padaku dan seluruh teman-teman yang lain, salah seorang temanku yang bernama Ismail menjawabnya dengan meminta padanya kopi manis panas saja. Ketika ia menawarkan untuk kesekian kalinya padaku, saat itu aku hanya menyamakan saja sesuai dengan minuman yang di minta oleh Ismail, yakni kopi panas. Sebenarnya aku belum pernah meminum kopi, akan tetapi karena aku merasa takut merepotkannya. Maka aku memintanya agar menyamakan saja sesuai dengan minuman yang di minta oleh sahabatku yang bernama Ismail.
Lantas pembantunya keluar dari dapur, membawakan minuman untuk kami. Namun di antara minuman yang di bawakan oleh pembantu itu, hanya minumanku saja yang masih tertinggal di meja dapur. Pembantu itu mengatakan kalau nampan yang di pakai untuk membawa minuman itu tidak mampu membawa terlalu banyak minuman. Oleh karena itu minumanku tertinggal di meja dapur. Seketika Yayat pun keluar dan membawakan minuman untukku. Ia tersenyum padaku. Senyuman dengan tarikan bibir yang lebar, namun tak sepenuhnya terbuka. Sehingga terkesan senyuman nakal yang penuh arti.
*****
Aku dan Yayat teman teman satu kelas. Tempat duduk kami hanya di batasi hijab yang memisahkan murid lelaki dengan murid perempuan. Setiap hari kami selalu belajar dengan materi pelajaran yang sama. Namun kedekatan di antara kami hanya sebagai teman sekelas. Saat aku baru kali pertama menikmati secangkir kopi panas dirumahnya, saat itulah mulai ada kedekatan diantara kami.
Yayat, adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ia anak perempuan satu-satunya didalam keluarganya. Setelah kejadian belajar kelompok dirumahnya, persahabatan kami pun saling mengenal lebih dalam. Hobi kami membaca novel atau kumpulan cerita pendek. Sepulang sekolah kami sering membaca novel atau cerita pendek yang sengaja kami bawa dari rumah untuk kami baca ditaman kota. Dari taman kota, kami bisa melihat hamparan aneka bungga-bungga. Kota kecil yang indah dan damai, dengan taman kota yang membelah riuh kendaraan setiap harinya.
Aku dan Yayat bisa menghabiskan waktu berlama-lama hingga senja merekah. Kami duduk-duduk dihamparan rumput sambil membaca novel atau cerita pendek yang kami punya. Dan tidak jarang diantara kami saling bertukar bacaan yang kami miliki.
Yayat adalah tipe wanita yang periang, tidak seperti aku yang pemurung. Entah mengapa mereka yang melihatku mengatakan kalau wajahku murung. Padahal aku tidak sedang bersedih disaat punya masalah dengan siapa pun. Mungkin karena wajahku murung karena aku tidak pernah memperlihatkan ekspresi wajah yang berbeda apabila mengalami sesuatu hal yang tertentu.
Teman-temanku sering menggoda kami kalau diantara kami sudah menjalin suatu hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan. Tentu saja, ketika aku dan Yayat semakin akrab, banyak yang mengatakan kalau kami berpacaran. Namun saat itu aku langsung mengatakan kalau aku memiliki perasaan apa pun terhadap Yayat yang sering dibicarakan seluruh teman-teman kami.
Dari hari kehari hubungan persahabatan kami pun semakin dekat. Dan aku tidak tahu mengapa diriku sangat perhatian padanya. Aku selalu memperhatikan setiap tingkah laku atau hanya sekedar memperhatikan kesehatannya. Tidak jarang aku memberi pujian kalau Yayat berpakaian menarik atau memakai minyak wangi yang aku suka harumnya. Begitupun sebaliknya, Yayat sering memuji penampilanku kalau aku berpenampilan yang disukainya.
Lalu sampai suatu hari muncul perasaan yang aneh didalam hatiku ketika melihat Yayat jalan dengan teman pria yang masih satu kelas dengan kami. Hari itu matahari terasa sangat dekat di ubun-ubun kepala, aku pun tidak tahu apakah cahaya matahari itu berpengaruh terhadap rasa amarahku yang sedikit bergejolak, atau memang perasaan ini apa adanya yang aku rasakan terhadap situasi yang telah membuat hatiku terasa aneh seperti ini. Namun aku tidak mau menjawab sendiri apa yang aku rasakan yang sebenarnya.
Sepulang dari sekolah aku merasa enggan untuk pergi ke taman kota untuk menghabiskan waktu dengan kumpulan cerita pendek yang baru saja kupinjam darinya. “Mungkin ini karena perasaan cemburuku”. Suara hatiku menjawab sendiri tanpa aku pinta. Seketika aku merasa mungkinkah apa yang dikatakan hatiku ini benar? Apakah aku suka padanya ?, pertanyaan dan cuaca mendung kini menjadi teman dalam perjalanan menuju rumah.
Sesampainya di rumah aku melepas sepatu dan segera menaruhnya di tumpukkan sepatu yang tersusun rapih di rak sepatu dekat dengan lemari kecil tempat Ayah menyimpan beraneka barang yang mungkin menurut Ibu, adik serta diriku tidak berguna lagi. Namun baginya barang itu suatu saat dapat di pergunakan.
Sejurus kemudian aku menuju dapur untuk membuatkan teh manis hangat. Tak beberapa lama teh manis pun siap untuk di minum. Ketika aku ingin menikmati teh manis itu dengan cuaca mendung di luar rumah. Hujan pun mulai turun. Pohon di sekitar rumah pun terlihat segar saat di guyur hujan yang cukup deras. Seketika aku kembali teringat dengan pertanyaan tentang perasaan hatiku terhadap Yayat selama ini. Aku mencoba untuk menjawabnya sendiri dan merasakan yang sesungguhnya tentang perasaanku terhadapnya. “ Kamu itu suka kapadanya, ayolah jujur pada perasaanmu sendiri”. Saat itu aku kembali mendengar suara hati yang mencoba menjawa apa yang aku rasakan yang sebenarnya terhadap Yayat yang selama ini selalu menemani dan menghabiskan waktu sepulang sekolah hanya untuk membaca kumpulan cerita pendek atau novel-novel yang sengaja kami bawa dari rumah untuk di baca di taman kota.
Tentu saja setelah aku mencoba berpikir tentang suara hatiku yang saat itu mengatakan kalau aku suka kepadanya, aku tidak dapat membatahnya. Ternyata suara hati itu membawa diriku untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada Yayat secara langsung. Sore itu hampir mendekati malam, hujan semakin deras menguyur komplek perumahan yang menjadi tempat tinggalku. Udara sore itu sangat dingin, terasa sampai menusuk tulang. Aku pun istirahat untuk menyambut datangnya pagi.
Keesokan harinya, waktu istirahat aku mencoba untuk merasa yakin dengan keputusanku untuk mengatakan yang sebenarnya tentang perasaanku yang sesungguh kepada Yayat dengan cara yang tidak seromantis di sinetron-sinetron yang sering kulihat saat Ibu dan adikku menonton televisi. Tentu napasku tersengal-sengal saat di hadapannya. Ketika irama degup jantungku mulai teratur. Aku meraih tangannya dan memberi senyuman yang berarti bahwa aku akan melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Aku menatap mata Yayat dalam-dalam, dan ia membalasnya dengan senyuman. Saat itu aku segera mengutarakan isi hatiku padanya. Ternyata apa yang aku harapkan darinya tidak pernah kukira sebelumnya, dan ia menolakku yang mungkin menjadikan hatiku untuk beberapa hari ini terasa hancur. Sejak saat itu aku tidak pernah melakukan hal yang sama kepada wanita mana pun walau aku menaruh perasaan suka.
******
Ayam berkokok panjang, tak lama suara adzan subuh sayup-sayup terdengar di telingga. Aku pun tersentak dari lamunan masa lalu yang telah kembali terputar dalam memory ingatanku beberapa tahun yang lalu. Tidak beberapa lama aku pun mengucap syukur walau terlambat namun tidak menjadikanku lupa akan karunia kesehatan yang di berikan-Nya untukku. Langit pun masih menampakkan warna mendung. Namun tidak menjadikan pemandangan pagi itu tidak indah bagi setiap makhluk yang melihatnya secara langsung.
Jarum jam menunjukkan pukul 04.20, aku merasa pagi itu terlalu pagi untuk memulai aktivitas. Aku ingin menikmati suasana pagi itu di teras kamar dengan duduk santai di atas kursi kayu yang beberapa tahun belakangan ini menjadi teman kesendirianku ketika malam minggu datang menjemput para pria untuk mendatangi wanita pujaan hatinya. Namun tidak untukku yang hanya menyesali sikapku yang tidak berani mengatakan perasaaanku terhadap wanita yang aku sukai.
Selagi aku termenung menikmati suasana pagi, aku tersentak ketika ibuku membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci. Ia mengatakan bahwa apa yang aku alami beberapa tahun yang lalu tidak perlu menyesalinya dan tetap merasa yakin kalau aku akan mendapatkan seorang pendamping hidup yang selama ini selalu di harapkan. Ia juga mengatakan kalau aku tidak perlu merasa takut bahkan tidak berani karena nanti di tolak setelah mengutarakan isi hati terhadap wanita yang aku sukai. Akan tetapi aku sendiri tidak tahu apakah nasehat itu berpengaruh untukku hingga mendapatkan pendamping hidup.


                                                                                    Syaif hakim
                                                                                    Depok, 30 Desember 2010

Rabu, 23 Februari 2011

Mangkuk malam


Abu senja melayang, menyalut mangkuk malam yang telah berpaling dari kehidupanku, ia acap kali mengeluarkan kata-kata jenaka dan keraguan demi keraguan menyelinap dalam pikiran dan akan bersarang. Lalu pabila kita ingin memulainya dengan kepastian, kita akan berakhir dalam keberhasilan.

Menghamba


Ketika semua memuji-Mu dan menghadapkan muka mereka kepada-Mu,
aku akan masuk ke dalam perseteruan yang tak akan usai.

Minggu, 02 Januari 2011

SEKAR



Gadis itu mengisi setiap waktu kehidupannya dengan berselimut cinta. Siang itu aku merasakan berbeda sejak mengenal gadis cantik, manis dan menarik dengan matanya yang selalu mengoda iman pria dan senyumnya yang tulus. Ia selalu terlihat rapi dan kata – katanya pun halus dan tergaja.
Saat itu matahari yang ramah menyapaku dan seluruh penghuni alam ini. Dan waktu aku melihat wajah gadis yang bibirnya selalu kelihatan basah, aku melukiskan suasana indah hari ini yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan hal begitu dalam rahmat dan kasih sayang Allah kepadaku.
Gadis yang di mataku seumpama kilau matahari di musim semi. Kian hari wajahnya semakin cantik dan memesona dengan tatapan matanya dan senyumannya yang selalu merekah dibias wajahnya. Sebenarnya aku tidak ingin mengenalnya lebih jauh. Karena Sekar aku tahu telah menjadi kekasih dari sahabatku. Tetapi entah kenapa aku tertarik padanya, sejak ia selalu membantu kegiatan keremajaan di tempat tinggalku.
Aku merasa bangga memiliki teman sepertinya. Ia seorang remaja wanita yang selalu aktif di setiap acara yang menyakut kegiatan remaja, baik itu kegiatan sosial maupun kegiatan yang sifatnya hanya hura – hura. Dan rasa banggaku bertambah sejak aku mengetahui bahwa dia berbeda kepercayaan denganku dan remaja – remaja yang lain. Namun ia tetap tidak mengaja jarak dengan kami. Sekar selalu membantu setiap kegiatan yang menyangkut kepercayaan kami, contohnya ia dengan ikhlas membantu acara tasyakuran yang selalu di adakan para warga setiap HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia. Selain itu ia pun tak segan – segan membantu kami dalam kegiatan Bulan Suci Ramadhan yang selalu kami isi dengan beraneka kegiatan.
Ini sudah hampir tahun ke lima aku mengenalnya. Dan bertepatan dengan persiapan HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia ke enam puluh lima tahun. Saat ini aku merasa hal baik apa lagi yang Sekar lakukan dan membuat aku semakin tertarik kepadanya. Tetapi aku bukan tipe pria yang terburu – buru dalam melihat sifat wanita. Aku memberi kunci pada sang waktu.
Waktu pun bergulir tanpa aku sadari. Dan persiapan Hut Kemerdekaan Replublik Indonesia pun belum berjalan sesuai biasanya. Aku merasa heran dengan teman – temanku. Hanya tinggal sebulan menjelang acara, akan tetapi belum terdengar persiapan yang di lakukan para teman – temanku yang tergabung dalam Karang Taruna. Aku pun hendak kerumah sahabat dekatku yang dindingnya rapat dengan tembok rumahku. Tetapi setelah aku berkunjung kerumahnya ternyata sahabatku yang bernama Indra tidak berada dirumah. Adik kecilnya mengatakan bahwa kakaknya sedang berada dirumah Arief yang tidak jauh dari tempat tinggalku.
Tidak beberapa lama kemudian aku sudah berada di halaman rumah Arief, dan disana aku tidak juga menemukan dua sosok sahabatku. Di saat aku mendengar tawa dan celotehan dari arah rumah Sekar, aku mengenali bahwa tawa dan celotehan tersebut adalah ciri khas dari ke dua sahabatku. Saat itu pun aku memutuskan untuk segera melangkahkan kakiku menuju rumah Sekar. Jarak antara rumahku, rumah Indra, rumah Arief dan rumah wanita yang senyumannya selalu merekah jaraknya tidak terlalu jauh.
Saat itu Indra dan Arief duduk diantara Sekar dan dua gelas yang berisikan kopi susu. Dan aku melangkahkan ke dua kakiku dengan tenang. Mereka pun menyambut kedatangan dengan ramah dan segera menawariku segelas kopi hangat. Sebenarnya bukan masalah aku menolak dan menerima pemberian sahabatku Arief. Namun aku merasa tidak pantas langsung segera menikmati segelas kopi tersebut. Dan akhirnya aku hanya membiarkan segelas kopi tersebut tanpa aku sentuh.
Lalu aku menyulut sebatang rokok. Aromanya semerbak langsung membuat Indra dan Arief merasa ingin menikmati rokok yang kuhisap, menurut mereka setidaknya rokok yang kubawa dapat mengusir rasa asam dimulut mereka. Kini Sekar pun duduk berada didalam kepulan – kepulan asap rokok tebal dari mulut kami. Namun ia tidak sedikit pun merasah marah kepada kami. Dan kami tetap menikmati rokok yang kami hisap walau mungkin sebenarnya asap rokok yang kami hisap menganggu pernapasaan wanita yang duduk diantara kami.
Tidak beberapa lama Sekar pun menjelaskan perbincangan mereka yang sejak tadi aku tidak ketahui. Ia mengatakan bahwa Arief, Indra berserta dirinya memiliki maksud untuk mempersiapkan HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia yang hanya tinggal sebulan. Aku pun sebenarnya ingin menanyakan hal tersebut kepada mereka. Namun aku merasa bahwa penjelasan yang diberikan Sekar membuat aku merasa bahagia karena aku dapat menikmati wajah cantiknya, aku pun membiarkan saja dia menjelaskannya kepadaku.
Kepulan asap rokok yang kami hisap semakin menemani penjelasan yang disampaikan Sekar kepadaku. Ia mengatakan bahwa acara Hut Kemerdekaan Replublik Indonesia yang ke enam puluh lima tahun yang di adakan ditahun ini. Mungkin hanya berisikan perlombaan – perlombaan saja yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Saat itu aku tidak mempertanyakan mengapa hanya perlombaan – perlombaan saja yang diadakan. Karena menurut sepengetahuanku bahwa Hut kemerdekaan Replublik Indonesia tahun ini mendekati dengan kegiatan Bulan Suci Ramadhan.  Lalu Indra melanjutkan penjelasan yang diberikan Sekar. Ia mengatakan bahwa yang memiliki ide ini sebenarnya wanita yang pertama menjelaskannya kepadaku. Dan ia juga mengatakan bahwa hambatan yang mungkin pasti menghambat proses acara adalah masalah dana.  Saat itu sebenarnya aku, Indra dan Arief merasa pesimis yang menyangkut mengenai dana. Namun Sekar mengatakan bahwa, kalau yang membuat kita pesimis itu belum kita coba sedikit pun. Maka kita tidak mengetahui mampu atau tidak kita lalui. Dan menurutnya hal yang terpenting adalah mencobanya dahulu.
Beberapa hari selanjutnya, kami pun berhasil mendapatkan dana sebesar Satu juta empat ratus lima puluh enam ribu. Saat itu kami merasakan kembali pesimis menghantui kami. Karena dana yang kami butuhkan agar acara bejalan dengan semarak sebesar Empat juta sampai Lima juta. Saat ini pun kami merasakan semangat yang sama, namun sedikit berbeda. Sekar dan remaja putri lainnya ikut serta dalam membantu kami dalam mencari dana dengan cara memintai pungutan kepada warga dengan seijin Ketua RT dan RW kami. Saat itu aku bertambah kagum, bangga dan menyukai pribadi Sekar yang telah berhasil menyemagati para remaja putri yang lain. Dan ini pun yang membuatku menyesal kenapa bukan diriku yang menjadi kekasihnya. Namun aku tetap bahagai dan bukan masalah bagiku walau Sekar dimiliki oleh sahabat dekatku, Arief.
Siang yang lain aku, Indra, Arief, Sekar menunggu remaja putra – putri yang lain yang berkeliling memintai pungutan kepada para warga di di rumah Sekar. Tetapi mereka tidak muncul juga, sehingga kami merasa jenuh menunggu mereka. Akhirnya salah satu teman kami yang ikut serta dalam memintai pungutan menemui kami. Dan ia mengatakan bahwa teman – temannya sedang di introgasi para senior. Ia juga amanat para senior agar kami mendatangi mereka yang sedang berkumpul di salah satu kediaman senior kami. Lalu kami pun memutuskan untuk menemui mereka.
Setelah kami berada di tempat para senior yang sedang mengintrogasi remaja yang lain. Kami pun segera mendapatkan pertanyaan yang sama. Mereka mengatakan siapa yang memiliki ide pertama kali yang bersangkutan mengenai proses pemungutan dana. Kami berempat pun menjawabnya dengan lantang, bahwa ide tersebut adalah ide kami bersama. Saat itu para senior kami bukan membantu memberi semangat kami. Namun mereka mengatakan bahwa tidak ada waktu lagi untuk mengadakan acara yang kami maksud, yakni mengadakan acara perlombaan yang bertepatan dengan HUT kemerdekaan Replublik Indonesia. Kami pun bertambah semangat setelah para senior kami meremehkan kinerja kami.
Sore yang lain, aku kembali mendatangi rumah Sekar. Kedatanganku di sambut para teman – temanku dan Bang Komar yang aku kenal sebagai Ketua Karang Taruna di wilayahku. Saat itu ia merasa bangga setelah mendengar maksud dan tujuan kami yang ingin mengadakan HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia. Ia juga mengatakan jangan diambil pusing masalah para senior yang meremehkan kinerja kami.
Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar dari wanita yang salama ini aku tertarik padanya bahwa acara HUT Kemerdekaan Replublik Indonesia berjalan dengan semarak. Aku ikut merasa senang mendengarnya, walaupun aku tidak ikut dalam kemeriahannya. Dan walaupun hingga saat ini aku belum mengutarakan kekaguman akan kecantikan, sikap dan tutur katanya kepada wanita yang senyumannya selalu merekah itu, aku tetap merasa senang walau hanya sebatas persahabatan. Karena menurutku persahabatanku dengannya tidak akan menganggu persahabatanku dengan Arief yang kini masih menjadi kekasihnya.
Sekar pernah berkata padaku “ Segeralah kamu cari pacar yang selalu bisa menyayangiku dan semangat padaku “, Hati kecilku pun berkata, “ Lupakan rasa kagum akan kecantikan Sekar dalam ingatanmu sekarang, karena rasa itu akan merusak persahabatanmu dengan teman dekatmu.”
                                                                                    Depok, 2010-07-04
                                                                                    Syaif Hakim

Jumat, 03 Desember 2010

RENJANA


Senyumku dalam malam
diam menanti binar – binar rindu
mengharap rindu yang hinggap  matamu
diantara desah malam
seperti serpihan bintang
yang terbentang diangkasa,
Senyum mengembang
bersama kisah dan kenangan yang ada
memancarkan pesona
dari waktu ke waktu
dan menyuguhi harapan
untuk rinduku bersambut

Syaif Hakim

ENIGMA


Waktu terlalu rentan mengucap huruf – huruf
Yang terkubur dalam masa silam
Kusadari apa yang terlewatkan
Dan kata yang sembunyi dalam lorong bahasa
Kini tinggal kisah yang mungkin abadi
Sebab aku adalah penyaksi
Pada getir malam yang menjelang
Dan ingin kusingkap rahasia
Walau secercah harap
Yang tak pernah terpisahkan
Antara kenyakinanku
Dan kesangsianku
cv
Syaif Hakim

DEWI CINTA


Selamat datang dewi cinta
Yang tak pernah pamrih akan anugrah
Kau selalu hadirkan kami kebahagian
Kau selalu hadirkan kami kesedihan
Setiap kata yang kau berikan
Setiap napas yang kau tiupkan
Tak pernah terpisahkan
Akan anugrah sang pencipta
Setiap aliran darahku
Seperti hulu air yang ingin mencapai hilir
Seperti angin yang ingin mencari celah
Tak pernah kau sematkan kata benci
Tak pernah juga kau bisikan sepenggal penyesalan